Bagaimana Perubahan Iklim Mempengaruhi Produksi Kopi?



05 Apr. 2021 | dilihat 260x

Ketika efek pemanasan global bukan lagi sekadar wacana tanpa makna yang dibaca di media-media.
JUJUR saja, banyak yang beranggapan bahwa perubahan iklim dan pemanasan global adalah istilah yang masih terlalu jauh di angan-angan, apalagi menyentuh Indonesia. Apalagi jika dikaitkan dengan urusan pertaniannya. Setidaknya, sampai beberapa tahun lalu saya masih berpikir itu cuma bagian dari wacana politis Al Gore saja. Atau usaha Negara-negara Barat untuk menggaet simpati Negara ketiga—apapun tujuannya. Sampai akhirnya saya merasakan sendiri bahwa cuaca di kota tempat saya tinggal saat ini benar-benar sudah tak bisa tertebak. Seharian panas terik, malamnya sudah hujan saja. Jika dulu bulan ini masih dikategorikan musim kemarau, sekarang hujan bisa saja turun seminggu penuh. Kali ini saya benar-benar harus percaya bahwa perubahan iklim memang sedang terjadi. Dan itu gawat.
Bagaimana perubahan iklim bisa memengaruhi kopi? Oke, pertama-tama kita harus sepakat dulu bahwa kopi—seperti halnya tumbuhan tropis lainnya—adalah tanaman yang wilayah tanamnya tidak boleh berada di kondisi yang terlalu panas, terlalu dingin, terlalu kering atau terlalu basah agar bisa dipanen dengan baik. Tapi perubahan iklim telah membuat semua skenario ini menjadi kacau balau. Dan “kekacauan” siklus iklim ini bisa memengaruhi baik jumlah produksi kopi yang dihasilkan dan kualitasnya sendiri—dua hal yang ikut menentukan penghasilkan para petani kopi.
Dampak lain yang dirasakan dari perubahan iklim malah lebih dramatis: (bencana) kekeringan dan penyakit epidemik tumbuhan yang datang menjadi lebih cepat dan keras. Perubahan yang tiba-tiba ini akhirnya membuat petani cenderung merugi apalagi jika efeknya datang semakin sering. Di tahun 2014, sebuah bencana kekeringan tidak terduga di Brazil telah membuat Negara itu kehilangan nyaris seperlima total produksi kopi negaranya. Ethiopia bahkan berada di wilayah dengan kondisi kekeringan terparah dalam 60 tahun terakhir. Di Amerika Tengah, sebuah epidemik kopi berkepanjangan telah mengakibatkan karat daun pada pohon kopi dan membuat 1.7 juta pekerja kehilangan pekerjaannya. Masih menganggapnya terlalu jauh untuk didengar?

Share:



ARTIKEL LAINNYA
Kopi Robusta Sidikalang Salah Satu Kopi Terbaik Di Sumatera
Menyendiri di Kedai Kopi, Mengapa Tidak
Kopi Lintong, Sang Legenda yang Mendunia
Menyeduh Kopi Membantu Melatih Kesabaran?
Yuk Bantu Kafe Kesayanganmu dengan Hal Sederhana Ini !
Kopi Sumatera, Kopi Terbaik Dunia

NAMOURA COFFEE

Free Member

Kab Dairi Sumatra Utara
Member sejak: Mar. 2021

  081287509951





HOME
PROFIL
PRODUK
GALERI
VIDEO
ARTIKEL